Belajar (dari) Antre

Antrian 1 Dalam sebuah artikel, Harry Tjahjono (Kompas, 10 Desember 2013), menukil kisah tentang seorang guru yang mengatakan, sebagai guru ia tak terlalu cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Dia jauh lebih cemas jika mereka tak pandai mengantre. Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan dia menjawab cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu setidaknya 12 tahun.

Antrian 2
Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre, yang akan saya adaptasi sesuai konteks tulisan ini.

Pertama, anak akan belajar manajemen waktu dengan baik, terencana, dan jika ingin mengantre paling depan, ia harus datang lebih awal. Kedua, anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba, terutama jika ia berada di antrean paling belakang. Ketiga, anak belajar menghormati hak orang lain (dan haknya sendiri), yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Keempat, anak belajar berdisiplin. Kelima, anak belajar kreatif memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre). Keenam, anak belajar tabah menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Ketujuh, anak belajar hukum sebab-akibat, bahwa jika terlambat harus menerima konsekuensi di antrean belakang. Kedelapan, anak belajar keteraturan dalam hidup. Kesembilan, anak belajar memiliki rasa malu. Kesepuluh, anak belajar jujur pada diri sendiri dan orang lain.

Kegiatan Outdor

Tidur Nyenyak – Anak Makin Pintar

anak-kecil-tidurOrang tua sebaiknya memperhatikan kebutuhan tidur anak. Sebab penelitian terbaru menyebutkan kalau tidur nyenyak di malam hari mampu meningkatkan kemampuan memori anak.

Hal tersebut pun seolah menjelaskan kenapa anak yang tidurnya bermasalah biasanya juga tidak bisa berkonsentrasi saat berada di sekolah.

Peneliti dari University of Tuebingen di Jerman menyebutkan, anak-anak lebih efektif menyerap pengetahuan secara implisit dan mengubahnya menjadi eksplisit daripada orang dewasa. Baca lebih lanjut

Smartpunktur – Pijat Untuk Mencerdaskan Otak

Smartpunktur“Smartpunktur, Pijat Untuk Mencerdaskan Otak”. Penulis : M. Ferry Wong,  menjelaskan tentang rahasia pengasuhan pada anak dan berbagai teknik smartpunktur.

Rahasia Pengasuhan :
1. Cintai diri
2. Luangkan waktu
3. Jadilah “PENDENGAR” yang baik
4. Penuh canda
5. Pengakuan dan penghargaan
6. Disiplin dan bertanggung jawab
7. Beri ruang kesempatan
8. Berikan contoh nilai-nilai kebaikan
9. Fokus dan pantau semuanya

Baca lebih lanjut

Sentra Bermain Aktif

Suasana belajar di Kelompok Bermain adalah suasana Bermain Seraya Belajar,  dimana terlihat anak melakukan kegiatan bermain yang menyenangkan dan ia tidak merasakan bahwa sesungguhnya ia sedang belajar tentang berbagai hal. Kegiatan bermain yang dilakukan anak berada  dalam situasi belajar/situasi kelas yang informal, dimana anak diberikan kesempatan untuk memilih beberapa kegiatan pada Sentra Bermain Aktif /Area Kegiatan yang sudah disiapkan guru.

Sentra Bermain adalah area kegiatan yang Baca lebih lanjut

Aktifasi Otak Tengah

Kawan…dalam disiplin humaniora, dan psikologis humanis, bagian otak manusia yang kita kenal dalam diri manusia ada dua yaitu

  • otak kiri (memliki keampuan analisa, menghafal simbol-simbol , lambang dan angka) serta
  • otak kanan (kemampuan menggabungkan pikiran dan perasaan ) (lihat Quantum Learning)

Namun beberapa belakangan ini telah di temukan di bagian otak manusia tersebut juga ada bagian otak tengah, di iringi juga dengan berbagai pelatihan aktivasi otak tengah tersebut yang saat ini bisa di temui di negara-negara adidaya (seperti Jepang).

Otak tengah (indra ke enam) berfungsi untuk mengaktifkan naluri /insting manusia yang terkadang diluar batas-batas manusiawi seperti berjalan di atas api, mengendarai mobil dangan mata tertutup dan lain-lain. saat ini banyak dijumpai training – training untuk dapat mengaktifkan otak tengah ini di belahan negara didunia, yang kegiatan ini adalah merupakan pendidikan bagi anak-anak untuk dapat mengaktifkan kemampuan otak tengah. sebagai seorang pendidik PAUD, anda juga bisa melakukan aktifasi otak tengah tersebut secara sadar maupun tidak.

KEGIATAN PENGUATAN PAUD BERBASIS KELUARGA (PARENTING)

——————————————–

BENTUK-BENTUK KEGIATAN

1. KELOMPOK PERTEMUAN ORANGTUA (KPO)

2. KETERLIBATAN ORANGTUA DI KELOMPOK/KELAS ANAK

3. KETERLIBATAN ORANGTUA DALAM ACARA BERSAMA

4. HARI KONSULTASI ORANGTUA

5. KUNJUNGAN RUMAH

Disampaikan pada Pelatihan ORTEK di hotel Grand Wahid disusun kembali oleh : KARTONO, ST.

(Sumber : Buku Pedoman Teknik Program Penguatan PAUD Berbasis Keluarga/Parenting, Direktorat PAUD,

Dirjen PNFI Kementerian Pendidikan Nasional, 2010)

——————————————–

A. TAHAP PERSIAPAN

Pertemuan pertama waktu yang tepat untuk pencarian data tentang peta masalah berhubungan dengan keterminatan dan keberlangsungan tentang pertemuan orangtua peserta didik dangan tim pendidik dan yayasan lembaga PAUD.

Format kuisioner meliputi pertanyaan sbb :
– Umur, jenis kelamin, anak ke:…
– Pendidikan terakhir orangtua, pekerjaan orangtua, dalam satu rumah tangga
apakah ada orang lain seperti kakek/nenek atau yang lain.
– Dalam 6 bulan terakhir apakah orangtua aktif di dalam pertemuan orangtua dan
guru ?
– Apa masalah utama terhadap pola asuh anak di rumah.
Lembar kuisioner dibuat dalam bentuk “Kartu masalah dengan ukuran kertas 6 x 10 cm.
Baca lebih lanjut