Posisi Setrategis Pendidik PAUD Dalam Mengembangkan Budi Pekerti Anak

Sepintas menjadi pendidik anak usia dini di rumah adalah hal mudah, asal  cukup sandang pangan, papan habis perkara. Demikian juga mendidik anak usia dini di sekolah (Taman Bermain) dianggap sepele. Asal ada alat permainan yang banyak dan  yang mahal, guru yang  lulusan sekolah / perguruan ternama, biaya yang mahal, maka pasti lulusannya menjadi anak pintar. Pada kenyataannya kalau dikaji dan ditelusuri kembali, mendidik anak tidak sekedar memenuhi kebutuhan materi ataupun menjadi pintar saja. Tetapi mendidik anak usia dini lebih dari itu, memenuhi kebutuhan rohani dan mental merupakan tuntutan tersendiri yang tidak dapat dan tidak boleh diabaikan.

Berpijak dari hal itu, maka kita tidak dapat mengabaikan dengan faktor sifat dan perilaku anak sejak dini, dan juga tempat tinggal / lingkungan di mana anak tumbuh dan berkembang

Tiga unsur penting dalam pendidikan yaitu :

( 1) Pendidikan merupakan upaya pengembangan kemampuan pribadi dan prilaku,

(2) pendidikan merupakan proses sosial yang ditujukan bagi penguasaan ketrampilan sosial dan perkembangan diri melalui wahana yang terselesai dan terkontrol,

(3) pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memusatkan pada proses perubahan pribadi atau paling tepat pemebentukan watak manusia.

A.    Hal-hal Yang Mempengaruhi Perkembangan Budi Pekerti Anak

Pembelajaran budi pekerti pada anak usia dini tidak cukup hanya di lingkungan sekolah saja. Akan tetapi harus terkoordinasi dengan lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal. Karena keberhasilan pendidikan tidak akan tercapai dengan baik manakala ketiga lingkungan tersebut, yaitu rumah, lingkungan sekitar, dan lembaga pendidikan tidak saling terkordinasi Karena hampir tidak ada orang tua yang mampu mendidik dan mengajar anaknya sendirian. Sebab tugas ini memiliki keunikan tersendiri dan tidak mungkin dipunyai semua orang baik dari segi teknis maupun non teknis. Dari sinilah lembaga pendidikan sangat membantu para orang tua dalam megembangkan budi pekerti pada anak.

B.     Strategi Pembelajaran Budi Pekerti Pada Anak.

Tidak berlebihan rasanya jika orang tua sering dibuat jengkel ulah anaknya yang dipandang nakal, tidak sopan, tak jarang pula ada orang tua yang menganggap polah tingkah anaknya sebagai kenakalan dan gangguan dalam keluarga. Oleh karena tidak jarang orang tua memberikan penanganan yang kurang pas.karena kesalahpahaman orang tua dalam memahami secara benar tentang mana yang dikategorikan nakal,  jahat dan keingintahuan anak  akan hal-hal yang menarik perhatiannya. Karena anak belum tahu dan belum dapat membedakan mana yang baik, dan buruk, mana yang sopan dan kurang ajar, mana yang berbudi dan tidak berbudi.

Apakah yang perlu kita lakukan saat mengajarkan budi pekerti pada anak? Apakah anak perlu menghafal mana yang baik dan buruk, atau anak perlu mengetahui pengertian berbudi pekerti? atau anak harus kita marahi saat mereka kurang ajar? Tentunya tindakan tindakan di atas tidaklah mencerminkan pengajaran budi pekerti.

Adapun langkah strategi yang dapat dilakukan di Sekolah / Kelompok Bermain adalah dengan menyanyi, mendongeng, berdiskusi, bermain, makan, minum dan lain lain. Kegiatan kegiatan tersebut dilakukan sebagai “Kegiatan rutin, Kegiatan spontan, Keteladanan, Pengkondisian (pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa, kemendiknas badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum th. 2010)

1. Kegiatan rutin

Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus secara konsisten setiap sasat (Kemendiknas badan penelitian dan pengembangan pusat  kurikulum th.2010)

Pepatah mengatakan “belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas pasir, belajar sesudah dewasa, bagaikan mengukir di atas air” yang artinya bahwa masa kanak kanak itu adalah masa yang paling baik buat kita memahatkan segala bentuk pada diri anak, karena menurut para ahli, masa kecil /usia dini dari 0 – 5 tahun merupakan periode emas, sehingga sangat disayangkan jika pada masa masa tersebut anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa arahan dan tujuan. Kegitan rutin ini, bisa berbagai macam bentuknya. Misal, mengucap salam, berdoa ketika masuk dan pulang, bersalaman dengan guru saat datang dan pulang.pembiasaan pembiasaan ini tidak cukup hanya dilakukan disekolah saja, tetapi juga di lingkungan anak tinggal dan di dalam keluarga.

2. Kegiatan spontan

Yaitu kegiatan spontan yang dilakukan pada saat itu juga. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik  yang harus dikoreksi pada sat itu juga.(kemendiknas 2010)

Seringkali kita sebagai pendidik PAUD dibuat kesal oleh tingkah laku anak didik yang suka usil, misalnya dengan tiba tiba ia merebut mainan yang dipegang temannya,mendorong temannya, atau mengancam tidak akan berteman. Menghadapi hal semacam ini kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan, kita “biarkan” anak semakin menjadi jadi, kita larang anak kadang kadang mutung.

Pada kondisi ini, Pendidik harus mampu mengambil tindakan spontan,dan bijaksana.

3. Keteladanan

Adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang  lain dalam memberikan  contoh terhadap  tindakan tindakan yang baik sehingga  menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. (Kemendiknas 2010)

Penampilan seorang guru sangatlah penting, baik secara lahiriah, dan batiniah. Guru yang senantisa berpakaian rapi, datang tepat waktu, ramah, mau menolong anak, bisanya akan disukai anak didiknya. Apalagi anak anak Usia dini suka sekali dengan meniru gaya guru yang disukainya, maka hendaknya guru tidak mengabaikan hal-hal yang tidak disukai anak. Karena ia menjadi pusat perhatian  untuk meniru segala prilakunya.

4. Pengkondisian

Agar tujuan pendidikan  tercapai, maka hendaknya didukung dengan sarana dan prasarana yang memadahi,  bersih, rapi, indah sehingga menjadikan anak didik tidak cepat bosan dengan suasana belajar dan bermain.

5. Kegiatan pengembangan budi pekerti

Hal-hal umum yang dijadikan patokan seorang anak memiliki budi pekerti adalah manakala ia mampu bersikap yang menyenangkan lingkungan. Pengembangan budi pekerti pada anak dapat dilakukan melalui:

6. Berbicara / berbincang bincang

Pada usia 4 -5 tahun, anak mulai mampu bertegur sapa dengan orang dewasa dan teman di sekitarnya . Di dalam bertegur sapa inilah kita dapat menanamkan  bagaimana anak melakukannya dengan baik,. Di dalam bahasa jawa di kenal dengan unggah ungguh  bahasa. Dengan orang yang lebih tua, seorang anak diajarkan untuk berbicara dengan bahasa kromo inggil/ halus, dengan teman sebaya menggunakan boso (pertengahan) dan dengan yang lebih kecil menggunakan bahasa ngoko, akan tetapi penggunakan bahasa ngoko ini bukan berarti semena mena.

a. Menyanyi

Semua anak akan senang dengan kegiatan menyanyi. Pendidik bisa memberikan nyanyian nyanyian tentang kasih sayang, penghormatan , persahabatan  dan lainnya. Beragamnya jenis jenis nyanyian, mengharuskan kita memilih nyanyian yang dapat merangsang anak untuk ikut bernyanyi ataupun bergembira dengan lagu tersebut, kita bisa meminta salah satu dari mreka menyanyikan lagu kesukaan, dan yang lainnya mendengarkan. Kita ajarkan  teman temannya memberikan perhatian, dan penghargaan atas keberaniannya  menyanyikan sebuah lagu, bisa berupa tepuk tangan atau acungan jempol. Tidak menertawakan temannya yang lupa lirik lagu, tetapi kita ajak menutupi kelupaan temannya  dengan menyanyi bersama. Akan tetapi kta tidak boleh memaksakan anak untuk bernyanyi. Ada sebagian anak yang tidak mau bernyanyi, tapi mereka senang mendengarkan nyanyian.

b. Mendongeng

Mendongeng atau bercerita, dapat dilakukan oleh pendidik ataupun oleh anak didik. Karena pada usia 4 – 5 tahun, anak mulai mampu bercerita tentang kejadian di sekitarnya. Pendidik bisa menceritakan tentang hal hal yang sederhana, kemudian anak didik kita ajak mengingat kembali kejadian yang ada dalam cerita tersebut. Pendidik dapat menanyakan bagaimana expresi marah, tertawa, sedih pada anak didik, dan memberikan contoh kapan perasaan perasaan tersebut harus kita miliki.

c. Bermain

Bermain dan permainan merupakan kegiatan jasmaniah yang spontan dan alami. Kegiatan ini memungkinkan anak anak mengembangkan dirinya baik dalam segi kesehatan, ketangkasan keluwesan fisik,maupun kecerdasan sosial emosionalnya. Dari bermain pula anak mulai mengerti bagaimana berinteraksi dengan temannya.Akan tetapi  yang perlu diingat adalah dalam memilih permainan untuk anak kita harus jeli, yaitu permainan yang menantang, dan menarik. Permaian yang terlalu mudah, menjadikan anak cepat bosan. Sedang permainan yan terlalu sulit tidak menarik bagi anak, karena membutuhkan waktu lama untuk mengexpresikan gerakannya.

d. Memberikan contoh perilaku yang baik.

Seorang pendidik dapat memberkan contoh perilaku yang baik, misal dengan meminta maaf saat melakukan sesuatu yang mengecewakan anak,memberikan kesempatan pada anak untuk membantu kita pada kegiatan tertentu, dan berterima kasih atas bantuannya, tidak mencemooh saat anak tidak mampu melakukan sesuatu,akan tetapi kita dapat membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan pengertian. Misalnya dengan mengucapkan” kamu pasti bisa, coba ibu  bantu”setelah itu kita ajarkan anak untuk berterima kasih.

C.    Faktor Pendukung Pembelajaran  Budi Pekerti

Anak usia dini belum mampu belajar secara abstrak, mereka perlu pengalaman yang nyata. Anak-anak belajar melalui melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan.

Faktor pendukung dalam pembelajaran budi pekerti adalah :

1. Pendidik

Hendaknya seorang pendidik memiliki kompetensi  :

a. Kompetensi  Kepribadian,

–  bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan psikologis anak,

–  bersikap dan berperilaku sesuai norma agama, budaya dan keyakinan anak,

–  menampilkan diri  sebagai pribadi yang berbudi pekerti luhur.

b. Kompetensi profesional

–  memahami tahapan perkembangan anak,

–  memahami pertumbuhan dan perkembangan anak,

–  memberikan rangsangan pendidikan, pengasuhan dan  perlindungan

–  membangun kerja sama dengan orangtua dalam pendidikan, pengasuhan dan perlindungan anak.

c. Kompetensi  pedagogik

–  merencanakan kegiatan program pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan

–  melaksanakan proses pendidikan, pengasuhan dan perlindungan

–  melaksanakan penilaian terhadap proses dan hasil pendidikan, pengasuhan,dan perlindungan

d. Kompetensi  Sosial

–  berhadapan dengan lingkungan

–  berkomunikasi secara efektif.

2. Keluarga  dan lingkungan

Keluarga dalam hal ini terutama keluarga inti yang terdiri dari ayah dan ibu, merupakan pengantar  anak pada  jenjang selanjutnya sehingga anak memiliki sifat, dan bentuk kepribadian yang berbudi atau tidak berbudi. Orang tua kadang kadang tanpa sadar memberikan angin segar kepada anak pada sifat dan pembawaan yang masih kecil tanpa memikirkan dampaknya lebih jauh, yang penting anak diam dan tidak rewel.

Dalam pengembangan budi pekerti anak usia dini, maka orang tua dan orang dewasa disekitarnya  hendaknya berpikir matang dalam mengambil sikap terhadap anaknya. Mengajarkan anak  dan memperkenalkan pada budi pekerti yang luhur.Karena “upaya penanaman dan pengembangan perilaku moral  yang dilakukan orang tua pada anak tidak dapat dipisahkan dari proses sosialisasi yang terjadi antara mereka”. (Otib.S.H,hal 16)

D.    Merencanakan Pembelajaran Pengembangan Budi Pekerti

1. Merencanakan metode pembelajaran.

Sebelum pembelajaran dimulai, kita terlebih dulu memilih metode yang akan kita pakai, misal mendongeng. Mendongeng bisa dari pengalaman nyata atau cerita tradisional. Yang terpenting cerita tersebut mengandung pesan moral, dengan pemilihan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti anak.

2. Proses pembelajaran,

Proses pembelajaran mendongeng, bisa diikuti dalam kelompok besar, adapun langkah yang dapat diambil,

–   anak berkumpul dalam bentuk lingkaran

–   menyanyi dengan lagu yang dapat memusatkan pikiran anak, misal kepala pundak lutut kaki, yang sesekali kita ubah urutannya.

–   Tanya jawab dan berdiskusi mengenai aturan, apa yang akan diceritakan, dan siapa yang mau bercerita.

–   Memberikan aturan pokok dengan 2 buah saja,misal, ketika ingin berbicara, anak harus tunjuk jari, saat teman / guru berbicara,yang lain harus mendengarkan,

–   Memberikan pujian pada anak yang mau bercerita, misal “wah, kamu bercerita dengan bagus”. Jika kegiatan ini bukan yang pertama, maka pujian  yang kita berikan pun harus berbeda, yang terpenting jangan memberikan pujian yang berlebihan, jika cerita anak tidak lebih bagus dari yang lalu, sampaikanlah jangan ditutup tutupi.

–   Mempersilahkan anak yang lain memberikan tanggapan dari cerita yang dibawakan temannya tanpa berebut,

Pendidik memperbaiki bahasa anak yang kurang sopan,dengan memberikan contoh bahasa yang sopan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s